Breaking News

Presiden TDA: Komunitas Pengusaha Dapat Menjadi Elevator Sosial Baru


Uploaded Image

Jakarta, 17 Juli 2026 — Presiden Komunitas Pengusaha Tangan Di Atas (TDA), Ferdian, mengusulkan agar komunitas pengusaha dipandang sebagai "elevator sosial" yang mampu memperluas mobilitas sosial melalui akses terhadap jejaring, pengetahuan, dan modal sosial. Gagasan tersebut disampaikan dalam keynote speech pada puncak Dies Natalis ke-13 Universitas Agung Podomoro bertema Entrepreneurial Action University, setelah TDA menerima Penghargaan Kewirausahaan Indonesia 2026 dari universitas tersebut.  

Dalam paparannya bertajuk Social Mobility Through Entrepreneurship in TDA, Ferdian menyoroti bahwa tantangan terbesar mobilitas ekonomi bukan semata persoalan kemampuan individu, melainkan akses terhadap jejaring sosial yang membuka peluang berkembang. Ia merujuk riset ekonom Raj Chetty dan tim yang menunjukkan bahwa economic connectedness atau pertemanan lintas kelas merupakan salah satu prediktor penting mobilitas ekonomi. 

"Informasi, modal, dan peluang tidak mengalir lewat pengumuman. Semuanya mengalir melalui jaringan sosial, sementara akses terhadap jaringan tersebut sering kali menjadi warisan yang tidak dimiliki semua orang," ujar Ferdian dalam pidatonya. 

Berangkat dari pemikiran tersebut, Ferdian mengaitkannya dengan teori sosiolog Pitirim Sorokin mengenai saluran sirkulasi vertikal, yakni institusi yang memungkinkan seseorang melampaui batas kelas sosialnya. Jika selama ini sekolah, rumah ibadah, dan institusi lain dipandang sebagai saluran klasik mobilitas sosial, menurutnya komunitas pengusaha dapat menjadi saluran kontemporer yang secara sadar membangun koneksi lintas latar belakang. 

"Di sekolah, koneksi lintas kelas sering kali terbentuk sebagai konsekuensi. Di komunitas pengusaha, koneksi itu dapat dirancang, diorganisasi, dan diperluas secara sistematis," jelasnya. 

Ferdian menegaskan bahwa filosofi tersebut menjadi landasan berbagai program TDA, mulai dari Foundation Workshop Series, Growth Workshop Series, Corporate Workshop Series, mentoring bisnis, hingga business matching. Menurutnya, seluruh program tersebut tidak sekadar meningkatkan kompetensi bisnis, tetapi juga mempertemukan pelaku usaha dari berbagai tingkat pengalaman sehingga tercipta pertukaran pengetahuan, peluang kolaborasi, dan akses terhadap jejaring yang sebelumnya sulit dijangkau. 

Ia menambahkan, TDA tidak menjanjikan keberhasilan bagi setiap anggotanya. Yang ingin dibangun adalah akses terhadap prasyarat yang sering menentukan peluang seseorang untuk berkembang.

"TDA tidak menjanjikan kesuksesan. Yang kami bangun adalah akses terhadap jejaring, pengetahuan, dan modal sosial yang selama ini sering terkunci oleh batas-batas kelas. Sisanya tetap ditentukan oleh kerja keras setiap individu."

Komunitas Pengusaha TDA berdiri sejak 2006 dan saat ini memiliki lebih dari 62.000 anggota yang tersebar di 119 daerah, 29 wilayah, serta memiliki perwakilan di lima negara. Organisasi ini secara rutin menyelenggarakan pelatihan, mentoring, business matching, dan berbagai program pengembangan kapasitas wirausaha untuk anggota dari berbagai skala bisnis. 

Menurut Ferdian, kolaborasi antara institusi pendidikan dan komunitas kewirausahaan menjadi semakin penting di tengah kebutuhan membangun ekosistem yang mampu memperluas kesempatan bagi generasi muda. Kampus berperan memberikan fondasi akademik, sementara komunitas menghadirkan ruang belajar berbasis pengalaman, jejaring profesional, dan kolaborasi nyata di dunia usaha.

Menutup pidatonya, Ferdian mengajak berbagai pihak membangun ekosistem kewirausahaan yang lebih inklusif melalui semangat #LetsGoTogether. Dalam kerangka TDA 9.0, organisasi tersebut menempatkan kepemimpinan, peningkatan kapabilitas wirausaha, penguatan ekosistem kolaborasi, dan penciptaan dampak sosial sebagai fokus utama pengembangannya. 

---

© Copyright 2026 - Siaran Update